Selamat datang di Golden World Blog. Semoga semua mahkluk hidup berbahagia. Sadhu Sadhu Sadhu.

Wednesday, February 26, 2014

Pangeran Siddhattha meninggalkan Istana

Untuk menyambut kelahiran cucunya, Raja menyelenggarakan satu pesta yang besar dan meriah.  Tetapi Pangeran kelihatan tidak gembira. Pangeran dengan hati-hati mendekati Raja dan mohon izin untuk mencari obat terhadap usia tua, sakit dan mati. Hal ini menimbulkan amarah Raja.

Izin tidak diberikan seperti dapat kita ikuti dalam percakapan di bawah ini :
 
“Ayah, kalau tidak diberi izin saya mohon Ayah berkenan memberikan kepadaku delapan macam anugrah.”
“Tentu saja, anakku, aku lebih baik turun tahta daripada tidak meluluskan permintaanmu.”
“Kalau begitu, mohon Ayah memberikan kepadaku :
 
1. Anugerah supaya tidak menjadi tua.
2. Anugerah supaya tidak sakit.
3. Anugerah supaya tidak mati.
4. Anugerah supaya Ayah tetap bersamaku.
5. Anugerah supaya semua wanita yang ada di istana bersama-sama dengan kerabat lain tetap hidup.
6. Anugerah supaya kerajaan ini tidak berubah dan tetap seperti sekarang.
7. Anugerah supaya mereka yang pernah hadir pada pesta kelahiranku dapat memadamkan semua nafsu keinginannya.
8. Anugerah supaya aku dapat mengakhiri kelahiran, usia tua dan mati.”

Mendengar pernyataan di atas Raja Suddhodana menjadi kaget dan kecewa. Raja menjawab, bahwa hal-hal yang di atas itu berada di luar kemampuannya dan masih mencoba untuk membujuknya dengan mengatakan :

“Anakku, usiaku sekarang sudah lanjut. Tunggu saja dan tangguhkan kepergianmu sampai aku sudah mangkat.”
 
“Ayah, relakan kepergianku justru sewaktu Ayah masih hidup. Aku berjanji bila sudah berhasil akan kembali ke Kapilavatthu untuk mempersembahkan obat yang telah kutemukan ke hadapan Ayah.”
 
Raja tetap tidak memberikan izinnya dan Pangeran tetap bersikeras untuk terus melaksanakan cita-citanya.
Pangeran kemudian memasuki kamar Yasodhara dan memandangi anaknya dengan gembira dan haru karena tidak lama lagi Beliau akan meninggalkannya berhubung tekadnya yang sudah bulat untuk mencari obat agar orang tidak menjadi tua, sakit dan mati.
 
Selanjutnya Pangeran masuk ke ruangan tempat para penari sedang menari diiringi musik yang merdu. Pangeran merebahkan diri di atas bantal yang dibuat dari benang-benang emas dan karena letih tidak lama kemudian Pangeran tertidur. Para penari menghentikan tariannya dan mereka pun ikut tidur di ruangan yang sama sambil menunggui Pangeran. Pada tengah malam Pangeran terbangun dan memandang ke sekelilingnya. Pangeran melihat gadis-gadis penari tergeletak tidur simpang siur di lantai dalam sikap yang beraneka ragam. Ada yang terlentang, ada yang tengkurap, ada yang mulutnya menganga lebar, ada yang air liurnya meleleh ke luar, ada yang menggulung tubuhnya sambil kepalanya terantuk-antuk di dadanya. ada yang menggigau, dan lain-lain. Pangeran merasa seperti di pekuburan dengan mayat-mayat yang bergelimpangan. Pemandangan ini membuat Pangeran jijik dan muak sekali, sehingga Beliau mengambil keputusan untuk meninggalkan istana pada malam itu juga.
 
Pangeran memanggil Channa dan memerintahkan untuk menyiapkan Kanthaka, kuda kesayangannya. Pangeran kemudian pergi ke kamar Yasodhara untuk melihat istri dan anaknya sebelum pergi untuk bertapa. Istrinya sedang tidur nyenyak dan memeluk bayinya. Tangannya menutup muka sang bayi sehingga muka bayi tidak dapat terlihat.
 
Pangeran semula ingin menggeser sedikit tangan istrinya, tetapi hal itu diurungkan karena takut kalau hal ini menyebabkan Yasodhara terbangun dan rencananya untuk meninggalkan istana bisa gagal. Pangeran hanya berkata dalam hati : “Tidak, biarlah hari ini aku tidak melihat wajah anakku, tetapi nanti setelah aku memperoleh apa yang kucari aku akan datang kembali dan dengan puas dapat melihat wajah anak dan istriku.”
 
Setelah itu Pangeran meninggalkan istana dengan menunggang Kanthaka yang berbulu putih diikuti oleh Channa yang memegang buntut kuda. Seolah-olah sudah diatur terlebih dahulu oleh para dewa, Pangeran Siddhattha tidak mendapat kesukaran waktu hendak keluar dari pintu gerbang istana dan waktu hendak keluar dari pintu tembok kota.
Para pengawalnya semua sedang tidur nyenyak dan Channa dengan mudah dapat membuka pintu agar Pangeran dapat keluar dari istana dan keluar kota.
Ketika itu Pangeran dicegat oleh Dewa Mara yang jahat dan membujuknya untuk kembali ke istana dan ia berjanji bahwa dalam waktu satu minggu Pangeran akan menjadi raja negara Sakya. Pangeran tidak menggubris bujukan Dewa Mara yang membuat Dewa Mara menjadi marah dan mengancam akan terus membuntutinya.
 
Setelah sampai di luar kota Pangeran berhenti sejenak dan memutar kudanya untuk melihat kota Kapilavatthu untuk terakhir kali (di tempat itu kemudian didirikan sebuah cetiya yang dinamakan Kanthakanivattana-cetiya).
 
Saat itu terang bulan di bulan Asatha dan Pangeran berusia 29 tahun.
 
Perjalanan diteruskan melintasi perbatasan negara Sakya, Koliya dan Malla dan kemudian dengan satu kali loncatan menyeberangi sungai Anoma, Pangeran turun dari kuda, mencopot semua perhiasannya dan memberikannya kepada Channa, mencukur kumisnya, memotong rambut di kepalanya dengan pedang dan melemparkannya ke udara (yang disambut oleh Dewa Sakka dan membawanya ke sorga Tivatimsa untuk dipuja di Culamani-cetiya).
 
Rambut yang tersisa sepanjang dua Anguli (+/- dua inci) semasa hidupnya tetap sepanjang itu dan tidak tumbuh-tumbuh lagi.
 
Selanjutnya, Brahma Chatikara mempersembahkan kepada Pangeran keperluan seorang bhikkhu yang terdiri dari delapan rupa barang, yaitu : jubah luar, jubah dalam, kain bawah, ikat pinggang, mangkuk makanan, pisau, jarum, dan saringan air. Setelah menukar pakaiannya dengan jubah bhikkhu, Pangeran memerintahkan Channa untuk kembali ke istana.
 
“Tidak ada gunanya hamba diam terus di istana tanpa Tuanku. Perkenankanlah hamba ikut Tuanku berkelana.”
 
“Jangan Channa, bawa pakaian dan perhiasan ini kembali dan berikan kepada ayahku dan sampaikan pesanku untuk Ayah, Ibu, Yasodhara untuk jangan terlalu bersusah hati. Aku akan mencari obat untuk menghentikan usia tua, sakit, dan mati. Segera setelah aku memperolehnya aku kembali ke istana untuk memberikannya kepada Ayah, Ibu, Yasodhara, Rahula dan kepada semua orang yang ada di dunia ini.”
 
Channa memberi hormat kepada Pangeran dan bersiap-siap untuk kembali. Tetapi Kanthaka tidak mau diajak pergi. Pangeran mendekati Kanthaka, mengusap-ngusap dan menepok-nepok lehernya dengan penuh kasih sayang sambil berkata : “Ayolah, Kanthaka, ikutlah pulang dengan Channa dan jangan menunggu aku lagi.”
 
Kanthaka ikut dengan Channa tetapi baru jalan belum seberapa jauh, kuda itu berhenti dan menengok lagi ke belakang agar dapat melihat wajah Pangeran untuk penghabisan kali. Kuda itu nampaknya sedih sekali dan matanya basah dengan air mata.
 
Kembalinya Channa bersama Kanthaka tanpa Pangeran ke Kapilavatthu disambut Raja dan seluruh penghuni istana dengan ratapan dan tangisan. Yasodhara memeluk leher Kanthaka dan bertanya : “Oh, Kanthaka, kesalahan apakah yang telah kubuat terhadapmu dan Channa, sehingga engkau berdua membawa pergi Tuanku Pangeran sewaktu aku sedang tidur nyenyak?” Hal ini membuat Kanthaka sedih dan patah hati.
Channa menyerahkan perhiasan, pedang serta pakaian Pangeran kepada Baginda Raja, menyampaikan salam perpisahan Pangeran kepada Ibunya dan Yasodhara beserta segenap keluarga lainnya. Selanjutnya Channa memberitahukan bahwa Pangeran sekarang berada di tepi sungai Anoma di negara Malla.
 
Meskipun menyesali kepergian Pangeran Siddhattha, tetapi Raja tahu bahwa kepergiannya itu sesuai dengan ramalan pertapa Asita dan Kondanna dan mengharap-harap cemas bila kiranya Pangeran akan berhasil menjadi seorang Buddha. Mulai hari itu Raja selalu mengikuti keadaan Pangeran dengan menyuruh orang menyelidiki dan melaporkan kepada Raja segala sesuatu yang dikerjakan Pangeran dan di mana Beliau berada.

Melihat Empat Peristiwa

Pangeran tidak bahagia dengan cara hidup yang dianggap seperti orang tawanan dan terpisah sama sekali dari dunia luar.

Pada suatu hari Pangeran mengunjungi ayahnya dan berkata: “Ayah, perkenankanlah aku berjalan-jalan ke luar istana untuk melihat tata cara kehidupan penduduk yang kelak akan kuperintah.”
 
Kerena permohonan ini wajar, maka Raja memberikan izin. “Baik, anakku, engkau boleh keluar dari istana untuk melihat bagaimana penduduk hidup di kota. Tetapi sebelumnya aku harus membuat persiapan sehingga segala sesuatunya baik dan patut untuk menerima kedatangan anakku yang baik.”
 
Setelah rakyat selesai menghias kota seperti diperintahkan oleh Raja maka Raja memanggil Pangeran untuk menghadap.
 
“Anakku, sekarang engkau boleh pergi melihat-lihat kota sepuas hatimu.”
 
Sewaktu Pangeran sedang berjalan-jalan di kota dengan tiba-tiba seorang tua keluar dari sebuah gubuk kecil. Rambut orang itu panjang dan sudah putih semua, kulit mukanya kering dan penuh keriput, matanya sudah hampir buta, pakaiannya compang-camping dan kotor sekali. Giginya sudah ompong, badannya kurus kering dan dengan susah payah serta terbungkuk-bungkuk ditopang oleh sebuah tongkat berjalan tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya yang sedang bergembira. Dengan suara lemah dan perlahan sekali ia minta-minta makanan dan mangatakan kalau tidak diberi makanan ia pasti akan mati hari itu juga karena ia lapar sekali dan sudah beberapa hari tidak makan.
 
Melihat orang tua itu, Pangeran terkesan sekali, karena hal seperti itu baru pertama kali dilihatnya.
 
“Apakah itu, Channa? Itu tidak mungkin seorang manusia. Mengapa ia bungkuk sekali? Mengapa ia gemetar sewaktu berjalan? Mengapa rambutnya putih dan bukan hitam seperti rambutku? Apa salahnya dengan matanya? Dan giginya dikemanakan? Apakah ada orang yang terlahir seperti itu? Coba katakan, O Channa yang baik. Apakah artinya semua ini?”
 
Channa menerangkan kepada Pangeran, bahwa itulah keadaan seorang tua, tetapi bukan keadaannya sewaktu ia dilahirkan. 
 
“Sewaktu masih muda orang itu seperti kita dan karena sekarang ia sudah tua sekali maka keadaannya telah berubah seperti yang Tuanku lihat. Sebaiknya Tuanku melupakan saja orang tua tersebut. Setiap orang kalau sudah terlalu lama hidup di dunia akan menjadi seperti orang itu. Hal itu tidak dapat dielakkan.”
 
Tetapi Pangeran tidak puas dengan jawaban Channa. Pangeran memerintahkan untuk segera kembali ke istana, karena pemandangan orang tua yang baru saja ia lihat telah membuatnya sedih sekali ia ingin merenungkan persoalan ini dengan lebih mendalam. Mengapa sebagai seorang Pangeran dan juga orang-orang lain pada suatu hari harus menjadi tua, lemah, dan sedih dan tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya, meskipun ia kaya, terpandang atau berkuasa.
 
Malam itu diselenggarakan sebuah pesta besar untuk menghibur Pangeran. Tetapi Pangeran acuh tak acuh saja dan tidak kelihatan gembira sewaktu berlangsungnya pesta makan dan tari-tarian. Ia sedang sibuk merenung dan dalam hati berkata kepada mereka yang hadir, “Pada suatu hari engkau semua akan menjadi tua, tanpa ada yang terkecuali dan begitu pula engkau yang tercantik.”
 
Setelah pesta usai dan Pangeran masuk ke kamar tidur, pikiran itu masih tetap saja mengganggunya. Di tempat tidur ia masih merenung bahwa suatu hari semua orang akan menjadi tua, rambutnnya putih, kulitnya keriput, ompong dan buruk seperti tukang minta-minta yang baru saja ia lihat. Ia ingin tahu apakah ada orang yang telah menemukan cara untuk menghentikan hal yang menyeramkan itu, yaitu usia tua.
 
Setelah persoalan ini dilaporkan kepada Raja, maka Raja menjadi sedih sekali dan ia merasa kuatir bahwa hal ini dapat menyebabkan Pangeran meninggalkan istana. Karena itu Raja memerintahkan kepada dayang-dayangnya untuk lebih sering mengadakan pesta-pesta makan dan tari-tarian.
 
Berselang beberapa hari Pangeran kembali mohon kepada Raja agar diperkenankan melihat-lihat lagi kota Kapilavatthu, tetapi sekarang tanpa terlebih dahulu memberitahukannya kepada para penduduk.
 
Dengan berat hati Raja memberikan izinnya karena Beliau tahu tidak ada gunanya untuk melarang, sebab hal itu tentu akan membuat Pangeran sangat sedih.
 
Pada kesempatan ini Pangeran pergi bersama-sama Channa dan berpakaian seperti anak keluarga bangsawan, karena ia tidak ingin dikenal sewaktu sedang berjalan-jalan.
 
Hari itu pemandangan kota berlainan sekali. Tidak ada penduduk berkumpul untuk mengelu-elukannya, tidak ada bendera-bendera, tunggul-tunggul, bunga-bunga dan penduduk yang berpakaian rapi. Tetapi hari itu Pangeran dapat melihat penduduk yang sedang sibuk bekerja.
 
Seorang pandai besi dengan badan penuh keringat sedang membuat pisau. Seorang pandai emas sedang membuat kalung, gelang, kerabu dan cincin dari intan, emas dan perak.
 
Seorang tukang celup pakaian sedang mencelup pakaian dalam beraneka ragam warna yang bagus-bagus dan kemudian menjemurnya. Tukang kue sedang sibuk memanggang roti dan kue dan menjualnya kepada langganannya yang kemudian dimakan selagi masih panas.
 
Pangeran memperhatikan orang-orang kecil ini yang sederhana dan semua orang kelihatannya sibuk sekali, bahagia dan senang dengan pekerjaannya. Tetapi pangeran juga melihat seorang yang sedang merintih-rintih dan bergulingan di tanah dengan kedua tangannya memegang perutnya. Di muka dan badannya terdapat bercak-bercak berwarna ungu, matanya berputar-putar dan napasnya mengap-mengap.
 
Untuk kedua kalinya dalam hidupnya Pangeran melihat sesuatu yang membuat Beliau sangat sedih. Pangeran yang dikenal sebagai orang yang penuh kasih sayang dengan cepat menghampiri orang itu, mengangkatnya, meletakkan kepalanya di pangkuannya dan dengan suara menghibur menanyakan: “Mengapa engkau, engkau mengapakah?” Orang sakit itu sudah tidak dapat menjawab. Ia hanya menangis tersedu-sedu.
 
“Channa, katakanlah, mengapakah orang ini?” Apakah yang salah dengan napasnya? Mengapa ia tidak bicara?”
 
“O, Tuanku, jangan sentuh orang itu lama-lama. Orang itu sakit dan darahnya beracun. Ia diserang demam pes dan seluruh badannya terasa terbakar. Oleh karena itulah ia merintih-rintih dan tidak lagi dapat bicara.”
“Tetapi, apakah ada orang lain yang seperti dia?”
 
“Ada, dan Tuanku mungkin orangnya kalau Tuanku memegangnya seperti ini. Mohon dengan sangat agar Tuanku meletakkannya kembali di tanah dan jangan menyentuhnya lagi sebab sakit pes itu sangat menular. Nanti Tuanku juga akan sakit.”
 
“Channa, masih banyakkah hal-hal buruk seperti ini selain sakit pes?”
 
“Memang, Tuanku, ada ratusan penyakit  yang sama hebatnya seperti sakit pes.”
 
“Apakah tidak ada orang yang dapat menolongnya? Apakah semua orang dapat diserang penyakit? Apakah sakit datang secara mendadak?”
 
“Betul, Tuanku, semua orang dalam dunia dapat terserang penyakit. Tidak ada orang yang dapat mencegahnya dan itu dapat terjadi setiap saat.”
 
Mendengar ini Pangeran menjadi semakin sedih dan kembali ke istana untuk merenungkan hal ini. Raja merasa sedih karena melihat Pangeran pada waktu terakhir ini seperti kurang gembira berhubung dengan kejadian-kejadian yang telah dilihatnya.
 
Berselang beberapa hari, Pangeran kembali mohon kepada Raja agar diperkenankan lagi melihat-lihat kota Kapilavatthu.
 
Raja menyetujuinya karena beranggapan tidak ada gunanya lagi sekarang untuk melarang.
 
Pada kesempatan ini Pangeran yang berpakaian sebagai anak seorang bangsawan dengan diiringi Channa berjalan-jalan di kota Kapilavatthu. Tidak lama kemudian mereka berpapasan dengan serombongan orang yang sedang menangis mengikuti sebuah usungan yang dipikul oleh empat orang.
 
Di atas usungan itu berbaring seorang yang sudah kurus sekali dalam keadaan tidak bergerak. Kemudian rombongan membawa usungan itu ke tepi sebuah sungai dan meletakkannya di atas tumpukan kayu yang kemudian dinyalakannya.
 
Orang itu tetap diam saja dan tidak bergerak meskipun api telah membakarnya dari semua sudut.
 
“Channa, apakah itu? Mengapa orang itu berbaring di sana dan membiarkan orang lain membakar dirinya?”
“Dia tidak tahu apa-apa lagi, Tuanku. Orang itu sudah mati.”
“Mati! Channa, apakah ini yang dinamakan mati? Dan apakah semua orang pada suatu waktu akan mati?”
“Betul, Tuanku, semua makhluk hidup pada suatu waktu harus mati. Tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya.”
 
Pangeran heran dan kaget sekali sehingga tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Pangeran berpikir bahwa sangat mengerikan keadaan yang disebut “mati” itu yang harus dialami oleh setiap orang, meskipun ia seorang Raja atau anak dari seorang Raja. Apakah benar tidak ada jalan untuk menghentikannya? Pangeran pulang dan di kamarnya ia merenungkan persoalan ini sepanjang hari.
 
“Semua orang di dunia ini pada suatu waktu harus mati; belum ada orang yang tahu bagaimana cara untuk menghentikannya. Tetapi aku rasa pasti ada cara untuk menghentikannya. Aku harus mencarinya dan menolong dunia ini.”
 
Sewaktu Pangeran mengunjungi Kapilavatthu untuk keempat kalinya, di sebuah taman Pangeran berhenti dan duduk beristirahat di bawah pohon jambu. Tiba-tiba Pangeran melihat seorang pertapa berjubah kuning dengan membawa mangkuk di tangan menghampirinya.
 
Pangeran memberi salam kepada pertapa tersebut dan menanyakan kegunaan mangkuk yang sedang dipegangnya.
 
Pertapa itu menjawab: “Pangeran yang mulia, aku ini seorang pertapa yang minta-minta makanan. Aku menjauhkan diri dari keduniawian, meninggalkan sanak keluarga untuk mencari obat agar orang tidak menjadi tua, sakit dan mati. Mangkuk ini aku bawa untuk mengharapkan makanan dari mereka yang berbelas kasihan. Selain dari itu aku tidak menginginkan hal-hal dan barang-barang duniawi.”
 
Pangeran terkejut karena ternyata pertapa ini mempunyai pikiran dan cita-cita yang sama dengan dirinya.
 
“O, pertapa suci, di manakah obat itu harus dicari?”
“ Pangeran yang mulia, aku mencarinya dalam ketenangan dan kesunyian hutan-hutan yang lebat, jauh dari gangguan dan keramaian dunia. Sekarang maafkan, aku harus meneruskan perjalanan. Penerangan dan kebahagiaan sedang menunggu.”
 
Kemudian pertapa itu berlalu dan terus menghilang, Konon diceritakan bahwa pertapa itu adalah seorang dewa yang ingin membantu Pangeran Siddhattha.
 
Pangeran merasa gembira sekali dan berkata di dalam hati: “Aku juga harus menjadi pertapa seperti itu!”
Tidak lama kemudian datanglah  dayang-dayang yang khusus mencari Pangeran untuk memberitahukan bahwa Putri Yasodhara telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Mendengar berita ini Pangeran bukan bergembira tetapi mukanya justru menjadi pucat. Pangeran mengangkat kepalanya menatap langit yang tinggi dan kemudian berkata:
 
“Rahulajato, bandhanang jatang.”
Yang berarti:
“Satu jerat telah terlahir, satu ikatan telah terlahir.”

Karena ucapan ini maka bayi yang baru lahir kemudian diberi nama “Rahula”.
 
Dalam perjalanan pulang ke istana Pangeran bertemu dengan Kisa Gotami yang karena kagumnya mengucapkan kata-kata sebagai berikut :
 
“Nibbuta nuna sa mata.
Nibbuta nuna so pita.
Nibbuta nuna sa nari.
Yassa yang idiso pati.”

Yang berarti:

“Tenanglah ibunya.
Tenanglah ayahnya.
Tenanglah istrinya.
Yang mempunyai suami seperti Anda.”

Pangeran terkejut dan tergetar hatinya mendengar perkataan :”Nibbuta yang berarti “tenang, padam nafsu-nafsu”, sehingga Beliau menghadiahkan Kisa Gotami sebuah kalung emas yang sedang dipakainya.

Masa Remaja


Sewaktu Pangeran meningkat usianya menjadi 16 tahun, Raja memerintahkan untuk membuat tiga buah istana yang besar dan indah, satu istana untuk musim dingin (Ramma), satu istana untuk musim panas (Suramma) dan satu istana untuk musim hujan (Subha). Kemudian Raja mengirimkan undangan kepada para orang tua yang mempunyai anak gadis untuk mengirimkan anak gadisnya ke pesta, di mana Pangeran akan memilih seorang gadis untuk dijadikan istrinya. Namun para orang tua tersebut ternyata tidak mengacuhkannya. Mereka mengatakan bahwa Pangeran tidak paham kesenian dan ilmu peperangan, maka bagaimana ia kelak dapat memelihara dan melindungi istrinya.
Ketika hal ini diberitahukan kepada Pangeran maka Pangeran mohon kepada Raja agar segera mengadakan suatu sayembara, di mana berbagai ilmu peperangan dipertandingkan. Dalam sayembara itu, Pangeran bertanding melawan pangeran-pangeran lain yang datang dari segenap penjuru negara Sakya bahkan juga pangeran-pangeran dari negara-negara lain.

Semua pertandingan seperti naik kuda, menjinakkan kuda liar, menggunakan pedang dan memanah ternyata dimenangkan oleh Pangeran. Khusus dalam hal memanah Pangeran tidak ada tandingannya. Untuk membentangkan busur yang dipakai oleh Pangeran saja mereka tidak mampu, karena busur itu besar dan berat, sehingga untuk membawanya ke tempat pertandingan harus digotong oleh empat orang.

Dengan mendapat sambutan yang meriah sekali dari para hadirin, Pangeran dinyatakan sebagai pemenang mutlak dari sayembara tersebut.

Dalam sebuah pesta besar yang kemudian diselenggarakan dan dihadiri oleh tidak kurang dari empat puluh ribu gadis cantik, pilihan Pangeran jatuh kepada seorang gadis bernama Yasodhara yang masih ada ikatan keluarga dengan Pangeran karena ia adalah anak pamannya yang bernama Raja Suppabuddha dari negara Devadaha dan bibinya Ratu Amita (adik Raja Suddhodana).

Setelah Pangeran Siddhattha menikah dengan Putri Yasodhara, maka kekuatiran Raja Suddhodana agak berkurang, sebab Raja selalu ingat kepada ramalan dari Pertapa Asita bahwa Pangeran kelak akan menjadi Buddha.

Dengan pernikahannya ini Raja berharap Pangeran akan lebih diikat kepada hal-hal duniawi. Sekarang tinggal menjaga supaya Pangeran jangan melihat empat peristiwa tentang penghidupan, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang pertapa suci.

Karena itu, Raja memerintahkan pengawal-pengawalnya agar Pangeran dijaga jangan sampai melihat empat hal tersebut. Kalau ada dayangnya yang sakit, maka dayang itu segera disingkirkan. Semua dayang dan pengawalnya adalah orang-orang muda belia. Selanjutnya, Raja memerintahkan untuk membuat tembok tinggi mengelilingi istana dan kebun dengan pintu-pintu yang kokoh kuat dan dijaga siang malam oleh orang-orang kepercayaan Raja.

Dengan demikian, Pangeran Siddhattha dan Putri Yasodhara memadu cinta di tiga istananya yang mewah sekali dan selalu dikelilingi oleh penari-penari dan dayang-dayang yang cantik-cantik.

Raja merasa puas dengan apa yang telah dikerjakannya dan berharap bahwa pangeran kelak dapat menggantikannya sebagai Raja negara Sakya.

Masa Kecil Sang Pangeran

Lima hari setelah lahirnya sang bayi, Raja Suddhodana memanggil sanak saudaranya bersama-sama 108 Brahmana untuk merayakan kelahiran anak pertamanya dan juga untuk memilih nama yang baik.

Pada waktu itu, Raja bertanya kepada para Brahmana yang mahir dalam ilmu ramal meramal. Tujuh dari mereka berkata bahwa, putra raja kelak akan menjadi raja dari segala raja (Cakkavati) atau akan menjadi Buddha hanya Seorang Brahmana termuda yang bernama Kondanna, meramalkan dengan pasti bahwa sang bayi kelak akan menjadi Buddha.

Nama untuk sang bayi yang dipilih ialah Siddhartha, dengan nama keluarganya Gotama/Gautama. Siddhartha berarti: Tercapailah segala yang dicita-citakannya.

Tujuh hari setelah Pangeran Siddhartha lahir, Ratu Maya meninggal dunia. Raja Suddhodhana menikah lagi dengan Putri Pajapati, yang merupakan adik dari Ratu Maya. Ratu baru ini yang kemudian diserahkan tugas untuk merawat sang bayi.

Setelah putra raja itu berumur beberapa tahun, ayahnya mengajaknya ke perayaan pesta membajak. Raja sendiri turut membajak bersama para petani. Selama perayaan berlangsung ramai, dayang-dayang juga terlena. Mereka lupa mengawasi dan menjaga Pangeran Siddhartha karena ingin menyaksikan kemeriahan pesta. Ketika kembali, mereka sangat heran melihat sang pangeran kecil sedang duduk bersila, melakukan meditasi.

Secepatnya seseorang dikirim untuk memberitahu Raja Suddhodhana. Diiringi para pengikut dan petani, datanglah rombongan berbondong-bondong menyaksikan kejadian yang aneh itu. Memanglah demikian. Sang pangeran kecil sedang bermeditasi, kaki bersila, tanpa menghiraukan sekelilingnya. Sama sekali dia tidak terusik dengan kebisingan sekelilingnya. Ditambah satu keganjilan lagi, ialah bayangan pohon jambu tempat pangeran bernaung tidak mengikuti perubahan letak matahari, melainkan tetap menaungi sang pangeran. Melihat peristiwa ini, untuk kedua kalinya sang raja memberi hormat kepada putranya itu. Waktu itu pangeran berusia tujuh tahun. Raja memerintahkan untuk membuat tiga buah kolam di istana, satu berisi teratai biru, yang satu lagi berisi teratai merah, dan yang terakhir berisi teratai putih. Raja juga mengeluarkan perintah agar kemana pun pangeran pergi, harus dilindungi sebuah payung indah, baik siang maupun malam. Itu adalah lambang keagungannya.

Semasa kecil, Pangeran Siddhattha hidup dalam kemewahan dan dirawat oleh para pengasuh sebaik mungkin. Seluruh pengiring-Nya muda-muda, berpenampilan menarik, cantik, tampan, dan berbadan lengkap. Jika ada yang sakit, maka orang itu tidak diijinkan tinggal di istana dan akan digantikan oleh orang lain. Sang pangeran di kenakan beraneka ragam perhiasan, kalung bunga, minyak wangi dan pernak-pernik yang semerbak. Tutup kepala, jubah, dan mantel-Nya seluruhnya didatangkan dari Negara Kasi. Untuk menyenangkan hati Pangeran Siddhattha, Raja Suddhodana membuatkannya tiga kolam teratai di istananya, yaitu Kolam Uppala dengan teratai birunya, Kolam Paduma dengan teratai merahnya, dan Kolam Pundarika dengan teratai putihnya.

Ketika Pangeran Siddhattha berusia tujuh tahun, Ia mulai menjalani pendidikan-Nya. Kedelapan brahmana terkemuka, yang dahulu diundang raja untuk meramalkan masa depan pangeran, menjadi guru-guru-Nya yang pertama. Setelah guru-guru tersebut mengajarkan semua pengetahuannya kepada pangeran, Raja Suddhodana mengutus-Nya untuk berguru kepada guru lain bernama Sabbamitta. Brahmana Sabbamitta yang tinggal di daerah Udicca, berasal dari keturunan terkemuka dan ahli dalam bahasa dan tata bahasa, serta fasih dalam Kitab Veda dan keenam Vedanga yang terdiri dari ilmu fonetik, ilmu persajakan, tata bahasa, ilmu tafsir, ilmu perbintangan, dan upacara keagamaan.

Sang Pangeran mampu mempelajari semua mata pelajaran yang Ia terima dari guru-Nya, termasuk ilmu kemiliteran, bela diri seperti tinju, gulat, anggar, dan berkuda. Ia adalah siswa yang terpandai dan terbaik dalam segala hal bahkan menjadi lebih pandai dari guru-guru-Nya. Ia adalah siswa yang paling bijak dan satu-satunya yang banyak bertanya kepada para guru dan kakak seperguruanNya. Ia juga anak yang terkuat, tertinggi, dan tertampan di kelas. Meskipun Pangeran Siddhattha adalah siswa yang terpandai, Ia tidak pernah lalai dalam bersikap santun dan memberikan penghormatan yang sepantasnya terhadap guru-guru-Nya.

Bodhisatta tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Ketika Ia sedang tidak ada pekerjaan, Ia akan menyendiri di tempat yang tenang dan berlatih meditasi. Dan meskipun Ia juga terlatih dalam seni memanah dan dalam pemakaian senjata, tetapi Ia tidak suka melukai makhluk lain. Ia juga menghindari pembunuhan atau penganiayaan hewan jinak sekalipun, seperti kelinci dan kijang.

Tathagatha Buddha Gotama



Sang Buddha lahir di antara suku Sakya (623 SM), di sebuah kerajaan di negeri yang sekarang bernama Nepal. Raja bernama Suddhodhana, permaisurinya adalah Ratu Maya. Meskipun Raja Suddhodana dan Ratu Maya sudah lama menikah, namun anak yang sangat mereka dambakan belum juga mereka peroleh, sampai pada suatu waktu Ratu Maya mencapai umur 45 tahun. Ketika itu Ratu Maya ikut serta dalam perayaan Asadha yang berlangsung tujuh hari lamanya. Setelah perayaan selesai Ratu Maya mandi dengan air wangi, mengucapkan janji uposatha dan kemudian masuk ke kamar tidur.

Sewaktu tidur, Ratu Maya memperoleh impian yang aneh sekali. Ratu bermimpi bahwa empat orang Dewa Agung telah mengangkatnya dan membawanya ke Himava (Gunung Himalaya) dan meletakkannya di bawah pohon Sala di (lereng) Mannosilatala. Kemudian para istri Dewa-Dewa Agung tersebut memandikannya di danau Anotatta, menggosoknya dengan minyak wangi dan kemudian memakaikannya pakaian-pakaian yang biasanya dipakai oleh para dewata. Selanjutnya Ratu dipimpin masuk ke sebuah istana emas dan direbahkan di sebuah dipan yang bagus sekali. Di tempat itulah seekor gajah putih dengan memegang sekuntum bunga teratai dibelalainya memasuki kamar, mengelilingi dipan sebanyak tiga kali untuk kemudian memasuki perut Ratu Maya dari sebelah kanan.

Ratu memberitahu impian ini kepada Raja dan Raja kemudian memanggil para Brahmana untuk menanyakan arti dari impian tersebut. Para Brahmana menerangkan bahwa Ratu akan mengandung seorang bayi laki-laki yang kelak akan menjadi seorang Cakkavati (Raja dari semua Raja) atau seorang Buddha.

Memang sejak hari itu Ratu mengandung dan Ratu Maya dapat melihat dengan jelas bayi dalam kandungannya yang duduk dalam sikap meditasi dengan muka menghadap ke depan.

Sepuluh bulan kemudian di bulan Waisak Ratu memohon perkenan dari Raja untuk bersalin di rumah ibunya di Devadaha. Dalam perjalanan ke Devadaha tibalah rombongan Ratu di taman Lumbini (sekarang Rumminde di Pejwar, Nepal) yang indah sekali. Di kebun itu Ratu memerintahkan rombongan berhenti untuk beristirahat. Dengan gembira Ratu berjalan-jalan di taman dan berhenti di bawah pohon Sala. Pada waktu itulah Ratu merasa perutnya agak kurang enak. Secepatnya para dayang memasang tirai di sekeliling Ratu. Ratu berpegangan pada sebatang dahan pohon Sala, dan dalam sikap berdiri itu lahirlah bayi laki-laki. Waktu itu tepat bulan purnama di bulan Waisak, tahun 623 sebelum masehi (SM).

Empat Maha Brahma menerima bayi itu dengan jaring emas. Dari langit turunlah air hangat bercampur dingin untuk memandikan anak itu, walaupun sebetulnya sang bayi sudah bersih, tanpa darah yang melekat. Bayi itu kemudian berdiri tegak, berjalan tujuh langkah. Setiap dia menapak, di bawah kakinya tumbuhlah bunga teratai, lalu Ia berkata:

“Aggo `ham asmi lokassa
jettho `ham asmi lokassa
settho `ham asmi lokassa
ayam antima jati
natthi dani punabbhavo”

artinya adalah:

“Akulah pemimpin di dunia ini
akulah tertua di dunia ini
akulah teragung di dunia ini
inilah kelahiranku yang terakhir
tak akan ada tumimbal lahir lagi”

Kelahiran sang pangeran membawa kebahagiaan bagi seluruh kerajaan termasuk seorang petapa bernama Asita yang dikenal juga sebagai Kaladevala yang merupakan guru pribadi raja. Asita segera berkunjung ke istana Raja Suddhodana untuk melihat bayi tersebut. Ketika Petapa Asita telah tiba dan melihat adanya 32 tanda dari seorang Mahapurisa (Manusia Agung) pada bayi tersebut, ia memberikan hormat. Melihat hal ini Raja pun turut memberi penghormatan kepada putranya.

Setelah itu pertapa Asita tertawa gembira lalu kemudian menangis.
Raja bertanya, mengapa? Pertapa itu menjelaskan, dia tertawa karena senang bahwa bayi itu akan menjadi Buddha kelak, tetapi dia menangis, karena dia sudah tua, tidak akan berkesempatan turut menerima ajaran-ajaran Sang Buddha itu kelak.

Pada hari yang sama, lahir pula (timbul) dalam dunia ini:

Yasodhara, yang kemudian juga dikenal sebagai Rahula mata (ibu dari Rahula).
Ananda, yang kelak menjadi pembantu tetap Sang Buddha.
Kanthaka, yang kelak menjadi kuda Pangeran Siddhartha.
Channa, yang kelak menjadi kusir Pangeran Siddhartha.
Kaludayi, yang kelak mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kanilavatthu.
Seekor gajah istana.
Pohon Bodhi, di bawah pohon ini Pangeran Siddhartha kelak akan mendapatkan Agung.
Nidhikumbhi, kendi tempat harta pusaka.